Cara Ringan Membaca Buku

Oleh Aray Rumawan


Membaca buku sering terasa seperti pekerjaan berat. Mirip tugas sekolah yang harus dituntaskan; duduk lama, serius, lalu menaklukkan ratusan halaman sekaligus. 

Setiap melihat buku yang tebal, rasanya seperti sedang menatap gunung kecil yang harus didaki. 

Dalam bayangan waktu itu, membaca selalu identik dengan waktu panjang yang sulit diselipkan di tengah kesibukan sehari-hari.

Sampai suatu waktu muncul ide, bagaimana kalau membaca sebentar saja?

Tidak lama, cukup lima menit.

Sebuah buku yang sudah lama tergeletak di meja dibuka. Halaman yang belum terbaca mulai dilihat perlahan. 

Tidak ada target harus menyelesaikan satu bab, apalagi menamatkan seluruh buku. Hanya lima menit. Santai saja.

Ternyata dalam lima menit itu sekitar lima halaman bisa selesai dibaca.

Awalnya terasa kecil sekali. Lima halaman seperti tidak berarti apa-apa. Tetapi lalu muncul rasa penasaran untuk menghitungnya. 

Jika setiap hari membaca lima halaman saja, dalam sebulan jumlahnya bisa mencapai sekitar 150 sampai 180 halaman—hampir setebal satu buku.

Kalau kebiasaan kecil itu diteruskan selama setahun, tanpa terasa lima atau enam buku bisa selesai dibaca.

Angka yang sebenarnya cukup mengejutkan.

Selama ini yang membuat membaca terasa berat rupanya bukan bukunya, melainkan cara kita memikirkannya. 

Membaca sering dibayangkan sebagai kegiatan besar yang harus dilakukan dengan sangat serius dan dalam waktu lama. 

Padahal, semuanya bisa dimulai dari langkah yang sangat kecil.

Kadang muncul pikiran lain, bagaimana kalau dalam lima menit bisa membaca sepuluh halaman?

Tentu jumlahnya akan lebih banyak lagi. Tapi sebenarnya persoalannya bukan semata-mata berapa halaman yang dibaca. 

Lebih penting justru, membaca untuk apa?

Sebagian orang membaca untuk menambah wawasan. Tujuan ini jelas masuk akal. 

Buku memang seperti jendela yang membuka pandangan ke banyak hal baru—gagasan, pengalaman, dan cara berpikir yang mungkin belum pernah ditemui sebelumnya.

Ada juga yang membaca untuk memperkaya kosakata. Semakin sering membaca, semakin banyak pilihan kata yang tersimpan di kepala. 

Diksi baru bermunculan, kalimat terasa lebih hidup, dan cara mengungkapkan pikiran jadi lebih lentur.

Bagi yang suka menulis atau berbicara, ini tentu bekal yang sangat berharga.

Sebagian orang lainnya membaca untuk melatih nalar sekaligus kepekaan. 

Di sinilah karya sastra sering memberi pengalaman yang berbeda. 

Melalui cerita dan tokoh-tokohnya, pembaca diajak masuk ke kehidupan orang lain—merasakan kebimbangan, luka, harapan, juga kebahagiaan yang mungkin tidak pernah dialami sendiri.

Pelan-pelan empati ikut tumbuh dari sana.

Karena itu, sebelum mulai membaca, ada baiknya berhenti sebentar dan bertanya pada diri sendiri, sebenarnya membaca ini untuk apa?

Pertanyaan itu sering membantu memilih buku dengan lebih sadar. 

Kadang ingin menambah pengetahuan, kadang ingin menikmati cerita, dan kadang hanya ingin menemani beberapa menit waktu tenang sebelum tidur.

Pada akhirnya, membaca sebenarnya tidak perlu dibuat rumit. 

Tidak harus selalu lama, tidak harus selalu serius. 

Lima menit setiap hari sudah cukup untuk memulai.

Halaman demi halaman akan bertambah tanpa terasa, dan bersama itu, cara memandang dunia pun ikut berubah, sedikit demi sedikit. []

Tabik, 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image