Siapa Sebenarnya Mahmoud Darwish? Penyair yang Menjadi “Suara” Palestina


Nama itu terus disebut setiap kali orang berbicara tentang puisi perlawanan Palestina. Bukan tokoh militer. Bukan politisi garis depan. Ia seorang penyair. Namun kata-katanya lebih tajam dari peluru dan lebih panjang umurnya dari rezim mana pun. Dialah —sosok yang dijuluki “suara Palestina”.

Ia lahir pada 13 Maret 1941 di desa al-Birwa, wilayah Galilee, Palestina—kini masuk teritori Israel. Darwish adalah anak kedua dari delapan bersaudara dalam keluarga petani Sunni Muslim kelas menengah. Ayahnya, Salim Darwish, pemilik tanah. Ibunya, Houreyyah, sosok yang kelak sering hadir dalam puisi-puisinya sebagai figur memori dan tanah air.

Namun masa kecilnya tidak lama utuh. Tahun 1948, ketika negara Israel berdiri, desanya dihancurkan. Keluarganya mengungsi ke Lebanon dan tinggal di kamp pengungsi PBB selama setahun. Saat kembali secara diam-diam pada 1949, mereka menemukan rumah sudah tak lagi menjadi milik mereka. Karena melewatkan sensus resmi, keluarga Darwish dicap sebagai “present-absent aliens”—hadir secara fisik, tetapi absen secara hukum. Status itu membuat mereka kehilangan hak atas tanah sendiri.

Dari luka itulah puisinya lahir.

Puisi yang Membuatnya Dipenjara

Sebagai remaja, Darwish mulai menulis tentang pengasingan dan identitas. Ia pindah ke Haifa pada awal 1960-an dan bekerja sebagai jurnalis di surat kabar berbahasa Arab seperti Al-Ittihad dan Al-Jadid, yang berafiliasi dengan Partai Komunis Israel (Rakah).

Koleksi puisi pertamanya, Asafir bila Ajnihah (Burung Tanpa Sayap, 1960), langsung memperlihatkan suara yang berbeda. Puisinya tidak berbisik. Ia lantang. Salah satu karya paling terkenal dari periode awalnya adalah Bitaqah Hawiyyah (Identity Card), yang dibacakan di ruang-ruang publik dan menyulut emosi.

Akibatnya? Antara 1961 hingga 1969, ia ditangkap atau dikenai tahanan rumah setidaknya lima kali oleh otoritas Israel. Paspor dicabut. Mobilitas dibatasi. Tapi puisi tidak bisa dipenjara.

Pada 1970, Darwish memilih pengasingan sukarela. Ia pergi ke Moskow untuk belajar, lalu berpindah ke Kairo, Beirut, hingga Paris. Pengasingan fisik justru memperluas cakrawala estetikanya.

Dari Penyair Perlawanan ke Filsuf Identitas

Di Beirut, pada 1973, ia bergabung dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan menjadi editor jurnal Shu’un Filastiniyya. Namanya makin dikenal bukan hanya sebagai penyair, tetapi juga intelektual politik. Pada 1988 di Aljir, ia menulis naskah Deklarasi Kemerdekaan Palestina. 

Namun Darwish bukan tipe pengikut buta. Ia mundur dari Komite Eksekutif PLO pada 1993 sebagai protes terhadap Perjanjian Oslo yang dianggapnya terlalu kompromistis.

Menariknya, karya-karyanya berkembang. Jika pada awalnya ia menulis puisi perlawanan yang eksplisit—seperti dalam A’ashiq min Filastin (1966)—maka pada periode berikutnya puisinya menjadi lebih reflektif, filosofis, dan universal. Dalam karya seperti Mural (2000), ia berbicara tentang hidup, kematian, mitologi, bahkan absurditas eksistensi manusia.

Simbol-simbol alam—pohon zaitun, burung, tanah—menjadi metafora yang konsisten. Zaitun bukan sekadar pohon. Ia akar. Ia ingatan. Ia identitas.

Penghargaan dan Pengakuan Dunia

Pengaruh Darwish melampaui batas Timur Tengah. Ia menerima Lenin Peace Prize (1983), Knight of Arts and Belles Lettres dari Prancis (1997), serta Lannan Cultural Freedom Prize (2001). Puisinya diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa.

Pada 1996, ia diizinkan kembali ke Ramallah. Di sana ia mendirikan pusat budaya Khalil Sakakini, sebagai ruang hidup bagi seni dan intelektualitas Palestina.

Ia wafat pada 9 Agustus 2008 di Houston, Texas, setelah komplikasi operasi jantung terbuka. Pemakamannya di Ramallah dihadiri ribuan orang. Ia dimakamkan bukan sekadar sebagai sastrawan, tetapi simbol nasional.

Bagaimana Pengaruhnya di Indonesia?

Di Indonesia, Darwish tidak masuk daftar penulis populer arus utama. Ia bukan bacaan massal seperti novel-novel populer. Namun di kalangan akademisi, aktivis, dan pecinta sastra Arab, namanya dihormati.

Beberapa puisinya telah diterjemahkan, termasuk Lovers from Palestine (A’ashiq min Filastin). Puisi Identity Card kerap dianalisis dalam jurnal akademik Indonesia, terutama dalam kajian semiotika identitas dan resistensi. Platform internasional seperti lyrikline juga memuat terjemahan bahasa Indonesia atas karya-karyanya.

Minat ini didorong solidaritas terhadap Palestina, tetapi juga karena kualitas estetikanya yang kuat. Darwish tidak hanya menulis tentang konflik. Ia menulis tentang manusia.

Mengapa Ia Tetap Relevan?

Karena tema yang ia angkat—pengasingan, kehilangan tanah air, identitas, dan perlawanan—bukan hanya milik Palestina. Dunia modern penuh migrasi paksa, konflik, dan krisis identitas. Puisi Darwish berbicara kepada siapa pun yang pernah merasa tercerabut.

Ia pernah menulis bahwa tanah air bukan sekadar tempat lahir, melainkan sesuatu yang kita bawa dalam bahasa dan ingatan.

Barangkali itulah warisan terbesarnya: menyelamatkan bahasa Arab modern dari retorika kosong, mengisinya dengan kesedihan yang elegan dan kemarahan yang terukur.

Mahmoud Darwish membuktikan satu hal: ketika tanah dirampas, kata-kata bisa menjadi rumah terakhir. Dan rumah itu, sampai hari ini, masih dihuni jutaan pembaca.


Narakata Team

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image