7 Tanaman yang Tidak Tumbuh di Eropa, tetapi Sangat Dibutuhkan Orang Eropa


Di sebuah siang yang lembap di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa beberapa tahun lalu, seorang pedagang rempah bercerita bahwa aroma cengkeh dan pala pernah mengubah peta dunia. 

“Kalau tidak ada rempah dari Nusantara,” katanya sambil menunjuk karung-karung kayu manis, “mungkin bangsa Eropa tidak akan berlayar sejauh ini.”

Kalimat itu terdengar berlebihan. Namun sejarah memang menunjukkan bahwa orang-orang Eropa pernah mempertaruhkan nyawa demi tanaman tropis yang bahkan tumbuh liar di Indonesia. 

Cuaca dingin Eropa membuat banyak tanaman tropis sulit hidup di sana. Sebaliknya, wilayah Indonesia yang berada di garis khatulistiwa justru menjadi surga bagi tanaman rempah dan pangan tropis.

Berikut tujuh tanaman yang nyaris mustahil tumbuh alami di Eropa, tetapi sejak dahulu sangat dibutuhkan masyarakat di sana.

1. Cengkeh


Cengkeh adalah salah satu alasan terbesar bangsa Eropa datang ke Nusantara. Tanaman ini berasal dari wilayah Maluku dan tumbuh optimal pada suhu tropis sekitar 22–30 derajat Celsius. Di atas wilayah dingin dan bersalju seperti sebagian besar Eropa, pertumbuhannya sangat sulit.

Pada abad pertengahan, cengkeh dipakai orang Eropa untuk pengawet makanan, obat herbal, campuran minuman hangat, hingga parfum. Di musim dingin yang panjang, rempah-rempah menjadi barang mewah sekaligus kebutuhan rumah tangga.

Di Amsterdam dan Lisbon dahulu, harga segenggam cengkeh bisa menyamai upah pekerja selama beberapa minggu. Karena itu VOC rela berperang demi menguasai jalur rempah Maluku.

2. Pala


Pala adalah tanaman asli Kepulauan Banda, Maluku. Pohon ini membutuhkan iklim tropis lembap dengan suhu hangat sepanjang tahun. Tanaman pala tumbuh baik pada suhu sekitar 20–30 derajat Celsius dan curah hujan tinggi.

Di Eropa, pala dulu dipercaya mampu menghangatkan tubuh dan menjaga kesehatan saat musim dingin. Pada masa wabah pes di abad ke-17, pala bahkan dianggap obat mahal yang dapat menangkal penyakit.

Tak heran, perebutan Banda pernah menjadi salah satu konflik paling brutal dalam sejarah kolonialisme.

3. Vanili

Vanili

Hari ini hampir semua orang Eropa mengenal aroma vanilla dalam es krim, kue, atau parfum. Namun tanaman vanili hanya bisa tumbuh baik di daerah tropis lembap dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi.

Indonesia kini menjadi salah satu produsen vanili terbesar dunia. Di banyak negara Eropa, tanaman ini tidak dapat tumbuh alami di alam terbuka karena suhu terlalu dingin dan perubahan musim terlalu ekstrem.

Seorang eksportir di Surabaya pernah mengatakan bahwa harga vanili berkualitas ekspor kadang lebih mahal daripada perak. Aroma kecil dari polong hitam itu ternyata menjadi industri miliaran dolar.

4. Kemiri

Kemiri

Kemiri sangat akrab di dapur Indonesia, tetapi nyaris asing di kebun-kebun Eropa. Tanaman ini menyukai iklim panas dan lembap sepanjang tahun. Biji kemiri dipakai sebagai pengental sekaligus pemberi rasa gurih alami pada masakan.

Di Eropa, kemiri banyak dicari industri makanan Asia dan kosmetik. Minyak kemiri juga dipakai untuk produk perawatan rambut. Namun karena faktor iklim, produksi lokal di Eropa sangat terbatas dan bergantung pada impor dari negara tropis.

5. Sagu

Sagu

Ketika orang Eropa bergantung pada gandum, masyarakat timur Indonesia sejak lama hidup dari sagu. Tanaman ini tumbuh di rawa tropis yang lembap, kondisi yang hampir tidak ditemukan di Eropa.

Kini sagu mulai dilirik sebagai pangan masa depan karena tahan perubahan iklim dan menghasilkan pati dalam jumlah besar. Sejumlah peneliti pangan Eropa tertarik pada sagu sebagai alternatif sumber karbohidrat selain gandum.

Ironisnya, tanaman yang dahulu dianggap makanan kampung justru mulai dipelajari serius oleh ilmuwan luar negeri.

6. Kopi Robusta Tropis

Kopi Robusta

Memang Eropa memiliki budaya minum kopi yang kuat. Namun banyak kopi yang mereka konsumsi berasal dari negara tropis, termasuk Indonesia. Kopi robusta tumbuh optimal pada iklim panas dan lembap di dataran rendah tropis.

Negara-negara Eropa tidak memiliki kondisi alam ideal untuk perkebunan robusta skala besar. Karena itu mereka bergantung pada impor dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Di beberapa kafe tua Paris atau Roma, aroma kopi yang mengepul diam-diam membawa jejak tanah vulkanik Indonesia.

7. Lempuyang

Lempuyang

Lempuyang mungkin kalah populer dibanding jahe atau kunyit, tetapi tanaman herbal ini banyak tumbuh di Indonesia dan Asia Tenggara. Ia memerlukan suhu hangat tropis dan sulit berkembang di iklim dingin Eropa.

Dalam pengobatan tradisional, lempuyang dipakai untuk meningkatkan nafsu makan, campuran jamu, hingga bahan perawatan rambut alami. Kini tren herbal alami di Eropa membuat tanaman seperti ini semakin dicari.

Dari rempah dapur sampai tanaman herbal, sejarah menunjukkan bahwa Eropa pernah sangat bergantung pada tanaman tropis Nusantara. Cuaca dingin membuat mereka tidak bisa menghasilkan banyak rempah sendiri. Sementara Indonesia, dengan matahari dan hujan sepanjang tahun, menjadi tanah yang melahirkan tanaman bernilai tinggi.

Dahulu kapal-kapal datang membawa meriam demi rempah. Hari ini, dunia datang membawa kontrak dagang dan riset pangan. Namun pesannya tetap sama: tanah tropis Indonesia menyimpan kekayaan yang sejak berabad-abad lalu dibutuhkan dunia.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image