Pemenang FLS3N 2026 Kediri Raya Cabang Lomba Menulis Cerpen
Suasana aula SMAN 1 Pare pada Rabu, 29 April 2026, terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada riuh siswa seperti hari sekolah pada umumnya. Yang ada justru deretan meja, berkas-berkas karya tulis, dan beberapa orang yang terlihat serius membaca.
Hari itu menjadi penutup dari proses panjang Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional tahun 2026, khususnya bidang menulis cerpen tingkat Kota dan Kabupaten Kediri.
Selama 3 hari, tim juri mulai bekerja. Mereka membaca satu per satu cerpen yang telah lolos seleksi awal. Tidak ada pembacaan cepat. Setiap karya diperhatikan detailnya. Alur, karakter, pilihan kata, sampai cara penulis menutup cerita. Semua dipertimbangkan.
Lalu 10 karya terpilih diundang untuk presentasi langsung di hadapan dewan juri.
Penilaian tidak berhenti pada angka. Ada diskusi yang berjalan cukup panjang. Beberapa karya memiliki kualitas yang nyaris seimbang.
Selisih nilai tipis menjadi hal yang sering muncul dalam pembahasan. Ini menandakan satu hal, kualitas peserta tahun ini relatif merata.
Setelah melalui proses tersebut, hasil akhirnya ditetapkan. Untuk tingkat Kota Kediri, peringkat pertama diraih oleh Frodia Syifa A dari SMAN 2 Kediri dengan nilai 281,32. Cerpen yang ditulis dinilai mampu menjaga emosi cerita secara stabil dari awal hingga akhir, dengan struktur yang rapi.
Posisi kedua ditempati Sabrina Putri A dari SMAN 8 Kediri dengan nilai 274,30. Karyanya menonjol dalam penggambaran konflik yang terasa dekat dengan kehidupan remaja, namun dikemas dengan sudut pandang yang lebih dewasa.
Di peringkat ketiga, Selvi Ramadhani dari MAN 1 Kediri memperoleh nilai 267,29. Cerpennya kuat pada detail suasana. Pembaca seperti diajak masuk ke dalam ruang cerita yang dibangun secara perlahan.
Kinara Alifa dari SMAN 2 Kediri berada di posisi keempat dengan nilai 263,52. Sementara itu, posisi kelima diraih Ayu Wening dari SMA Muhammadiyah Kediri dengan nilai 262,80.
Di sisi lain, hasil untuk tingkat Kabupaten Kediri juga menunjukkan persaingan yang ketat. Juara pertama diraih Ausha Anzani Ahmad dari SMAN 1 Mojo dengan nilai 276,78. Karyanya dinilai memiliki kedalaman tema dan pengolahan konflik yang rapi, tanpa terkesan dipaksakan.
Peringkat kedua diraih Nuryati dari SMAN 1 Wates dengan nilai 269,07. Cerpennya mengalir dengan baik, terutama dalam dialog yang terasa hidup dan tidak kaku.
Maharani Puspa Arum dari SMAN 1 Papar menempati posisi ketiga dengan nilai 268,82. Ia mencoba keluar dari pola umum dengan tema yang lebih berani, meski masih menyisakan beberapa ruang untuk pengembangan.
Posisi keempat ditempati Adlira Fazqinah W dari SMAN 1 Puncu dengan nilai 262,23. Sementara posisi kelima diraih Camelia Rizki T dari SMAN 1 Ngadiluwih dengan nilai 261,21.
Tim juri dalam kegiatan ini terdiri dari Nova Kristian, Marista Dwi R, dan Ahmad Fahrizal. Mereka datang dari latar belakang akademik dan praktik literasi. Kombinasi ini membuat penilaian tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi juga pada rasa dalam membaca karya.
Dalam catatan juri, banyak peserta sudah mulai berani mengangkat tema sosial. Ada yang menyinggung keluarga, tekanan lingkungan, hingga persoalan identitas. Namun, beberapa karya masih terjebak pada pola cerita yang mudah ditebak. Ini menjadi catatan yang cukup jelas.
Menulis cerpen ternyata bukan hanya soal ide. Banyak peserta memiliki gagasan yang menarik, tetapi belum sepenuhnya mampu mengolahnya menjadi cerita yang utuh. Di titik ini terlihat pentingnya latihan dan kebiasaan membaca.
Penetapan pemenang ditutup dengan penandatanganan berita acara oleh seluruh juri. Dokumen tersebut menjadi dasar resmi hasil penilaian. Dari sinilah nanti akan ditentukan siapa yang berhak melangkah ke tingkat berikutnya.
Di luar aula, suasana kembali seperti biasa. Tidak ada selebrasi berlebihan. Tidak ada sorak-sorai. Semua berjalan tenang. Namun bagi peserta, hari itu menyisakan banyak hal. Ada yang pulang dengan rasa puas, ada yang membawa pulang pertanyaan.
Barangkali ini bukan hanya tentang lomba. Ada proses yang lebih panjang di baliknya. Tentang bagaimana seseorang belajar menulis, jatuh pada kalimat yang gagal, lalu mencoba lagi.
Dan setelah semua ini selesai, yang tersisa bukan hanya daftar nama pemenang. Ada satu hal yang lebih penting, siapa yang akan terus menulis setelah lomba ini berakhir. []

