Celengan Pengalaman, Selagi Masih Muda




Dalam lima tahun terakhir, aku kerap berkegiatan dengan para remaja, terutama saat masih menjalankan program "Creating Space" YKP-Oxfam Canada bersama Dinas PPKBPPPA Kab. Blitar.

Secara langsung bersinggungan dengan Duta Genre, Forum Anak, Gus Jeng dan Duta-duta lainnya.

Lalu, membersamai para remaja di RP3A (Relawan Pemuda Peduli Perempuan dan Anak).

Ini hal baru bagiku yang di kala remaja, tidak pernah ikut ajang-ajang tersebut.

Masa remajaku terkuras habis untuk kegiatan ekstrakurikuler Jurnalistik yang melelahkan karena harus mengelola Majalah, mading, broadcast dan bulletin.

Sisanya untuk kegiatan luar sekolah, terutama belajar menulis puisi dan cerpen di Forum Lingkar Pena.

Ada perbedaan ketika berjumpa para duta-duta itu.

Mereka punya kepercayaan diri yang tinggi, kemampuan komunikasi verbal, dan ketenangan di hadapan orang banyak. Ini mengesankan.

Dan lewat keberanian itupula, mereka bisa mencecap pengalaman lebih banyak dibandingkan remaja seusianya.

Iklim kompetesi yang ketat mereka lakoni dan perjuangan selalu tidak mudah.

Dalam kompetisi ada resiko kalah dan menang. Kalah bisa menjatuhkan mental, menang harus mampu mengelola attitude.

Meskipun aku tak terlalu suka (lebih tepatnya tak cukup punya keberanian) mengikuti ajang-ajang tersebut, namun harus kita sadari bahwa proses berkembang manusia bisa ditempuh lewat beragam cara.

Kemaren, karena "ditembusi" oleh Suara Sastra, aku hadir ke agenda Blitar Book Party.

Aku tahu gerakan "Book Party" yang menasional ini sejak lama.

Sebenarnya serumpun dengan aktivitas lapak baca, perpus jalanan dan sebagainya.

Sesekali aku mengamati aktivitas mereka yang saling bercerita tentang buku.

Sambil melihat adakah wajah-wajah baru yang muncul, selain tentu saja senior "bookmates" yang sudah kutemui sebelumnya.

Di daerah "pensiunan" seperti Blitar ini, ketemu pembaca buku yang mau "bergerak" itu sangatlah langka.

Ketika ada yang akhirnya muncul, itu semacam melihat petapa keluar dari goa persembunyiannya.

Belakangan aku tau bahwa inisiatornya adalah anak SMA, dan relawannya sebagian adalah generasi dewasa awal.

Sambil sesekali mengingat bahwa pada usia yang sama, aku pun juga sudah "jumpalitan" melakukan hal serupa.

Namun ternyata, itulah tapak jalan yang melambari perjalanan hidup berikutnya.

Aku pun tak pernah menyangka jika menjadi ketua ekskul Jurnalistik itu ada gunanya, bahkan hingga sekarang.

Ternyata bagi sebagian remaja, menjadi ketua ekskul itu sangat keren, meski pada masanya aku terasa berat memikul amanah tersebut, karena membuat nilai akademikku jeblok.

Namun ternyata portofolio itulah yang membentukku dan terus kulakoni selepas lulus, hingga bertahun-tahun kemudian.

Masa depan memang penuh misteri, dan kita tidak tau, mana yang nantinya lebih berguna untuk hidup kita.

Bangku sekolah, aktivitas komunitas, ajang pencarian bakat, atau apa?

Selagi masih muda, celengan pengalaman itu harus diisi, sebab masa muda adalah masa ketika melakukan kesalahan (masih) dianggap sebagai proses belajar.

Tabik,
Ahmad Fahrizal A
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image