Berhemat


Seorang teman yang biasanya datang bersama Honda Brio-nya, hari itu menunggangi motor matic.

“Hemat bro,” sahutnya sambil tersenyum tipis.

Melihat rekam jejaknya yang glamour, kalimat itu terasa janggal.

Suasana politik memang sedang tidak berpihak padanya. Seperti halnya sebuah usaha, kalkulasinya agak meleset.

Aku? Ya, dibanding teman seangkatan, dan atau teman sesama aktivis, hidupku sebenarnya sudah sangat hemat.

Selain karena tak terjun dalam dunia politik dan lebih asyik berselancar sebagai pekerja lepas, saldo rekeningku bisa dengan mudah ditebak isinya.

Jadi, dengan saldo segitu, bisa terprediksi juga seperti apa gaya hidupnya, kan?

Nasibku tak jauh beda dengan pegawai UMR. Hanya punya sedikit previlese untuk tidak harus keluar rumah dan bisa mengambil pekerjaan sampingan kapanpun.

Itu membuatku bisa berhemat BBM, waktu, dan mungkin tekanan mental karena tidak ada relasi atasan-bawahan secara langsung.

Previlese itulah yang dulu kukonversi dalam bentuk jalan-jalan atau nongkrong di kafe.

Tampak lebih “borjuis”, padahal dari segi pendapatan sebenarnya sama saja.

Berbeda dengan temanku yang sekali kayuh proyek bisa buat ganti motor, mobil, atau renovasi rumah.

Juga karena disparitas pendapatan itulah, gaya hidup akhirnya ikut berubah.

Gaya hidupku sudah minimalis. Seperti halnya pegawai UMR yang bekerja untuk kebutuhan hidup, aku pun demikian.

Sesekali saja jika ada dana lebih, buat jalan-jalan, kuliner, atau nyetok bahan makanan agar bisa “makan enak” untuk beberapa hari ke depan.

Definisi “makan enak” pun berbeda-beda, bergantung gaya hidup. Untungnya “enak” bagiku tidak rumit.

Ramen misalnya. Sate kambing. Seafood pinggir jalan yang masih masuk akal untuk ukuran dompet kaum UMR.

Untungnya pula, dari segala jenis minuman kafe, bagiku kopi adalah kasta tertinggi.

Jadi ketika nongkrong, kopi tubruk menjadi standar. Biasanya juga paling murah.

Hari-hari ini, di tengah fluktuasi pendapatan, kita memang harus berhemat.

Terutama bagi pekerja media digital.

AI perlahan mengubah lanskap pekerjaan. Tiba-tiba saja beberapa pekerjaan yang dulu membutuhkan tiga orang, kini cukup satu orang dibantu aplikasi.

Desainer mulai bersaing dengan generator gambar.

Penulis artikel mulai berhadapan dengan chatprompt.

Editor video dipaksa bergerak lebih cepat karena aplikasi kini bisa memotong footage otomatis, memberi subtitle otomatis, bahkan membuat narasi otomatis.

Di kantor media, situasinya terasa makin aneh. Traffic tetap dituntut naik. Konten harus terus ada. Namun biaya produksi ditekan serendah mungkin.

Akhirnya manusia dipaksa bekerja seperti mesin, sementara mesin justru dibuat semakin menyerupai manusia.

Orang-orang kreatif akhirnya tidak lagi menjual keterampilan, melainkan menjual kecepatan bertahan hidup.

Dan pekerja lepas seperti aku sangat paham rasanya.

Mungkin itu juga alasan kenapa banyak orang mulai belajar menekan pengeluaran.

Mengurangi nongkrong.

Menahan beli barang.

Menunda liburan.

Dampaknya bisa ke semua bidang pekerjaan; retail, travel, penginapan, kuliner, dlsb.

Namun dari sekian banyak hal yang bisa dihemat, makan sebaiknya jangan ikut dipangkas terlalu jauh.

Tubuh manusia bekerja seperti mesin biologis yang rumit. Otak membutuhkan glukosa untuk berpikir. Otot membutuhkan protein untuk memperbaiki jaringan. Sistem imun membutuhkan vitamin dan mineral agar tidak gampang tumbang.

Ketika asupan makan buruk, tubuh sebenarnya sedang melakukan penghematan darurat.

Jadi, tetap jaga pola makan dan pastikan makan enak, ya. []

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image