Jusuf Kalla Library, Perpustakaan Modern di Depok yang Ramai Pengunjung



Di kawasan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, Depok, ada sebuah gedung perpustakaan dengan bentuk modern dan dominasi kaca besar pada bagian depannya. 

Gedung itu berada di dalam kompleks Universitas Islam Internasional Indonesia atau UIII, kampus yang dibangun pemerintah sebagai universitas Islam berbasis riset dan bertaraf internasional.

Nama gedung tersebut adalah Jusuf Kalla Library.

Dalam dua tahun terakhir, perpustakaan ini mulai dikenal luas di media sosial dan menjadi salah satu ruang literasi yang ramai dikunjungi masyarakat Jabodetabek. 

Pengunjungnya bukan hanya mahasiswa kampus. Sebagian besar justru berasal dari masyarakat umum.

Setiap hari, perpustakaan ini dapat menerima sekitar seribu pengunjung. Pada akhir pekan jumlahnya sering meningkat. Banyak keluarga datang bersama anak-anak. 

Ada pula mahasiswa dari kampus lain, pekerja remote, pelajar sekolah, hingga komunitas literasi.



Fenomena itu menarik perhatian karena selama ini perpustakaan kampus di Indonesia cenderung tertutup dan hanya digunakan sivitas akademika. 

Jusuf Kalla Library mengambil arah berbeda. Perpustakaan ini dibuka untuk publik dengan sistem registrasi sederhana dan tiket masuk terjangkau.

Lokasinya berada di Jalan Raya Bogor KM 33, kawasan eks RRI Cimanggis. Akses menuju tempat ini relatif mudah karena berada di jalur utama Jakarta–Bogor.

Pengunjung yang menggunakan KRL Commuter Line dapat turun di Stasiun Pondok Cina atau Depok Baru, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi daring atau angkutan penghubung. 

Pengguna LRT Jabodebek dapat turun di Stasiun Harjamukti lalu melanjutkan perjalanan menggunakan BisKita Trans Depok.

Bagi pengguna kendaraan pribadi, area parkir tersedia cukup luas di dalam kompleks kampus.

Ketika memasuki gedung perpustakaan, pengunjung akan menemukan suasana yang berbeda dibanding perpustakaan konvensional pada umumnya. 



Interior ruangan dibuat terbuka dengan pencahayaan alami yang cukup. Rak-rak buku ditata rapi. Ruang baca tersebar di beberapa lantai dengan konsep yang tidak kaku.

Di sejumlah sudut tersedia meja baca individu atau carrel untuk pengunjung yang ingin bekerja dengan tenang. 

Ada pula sofa santai, bean bag, dan area tribun kecil yang sering dipakai membaca sambil membuka laptop.

Konsep seperti itu membuat banyak anak muda merasa lebih dekat dengan perpustakaan. Sebagian pengunjung bahkan menyebut suasananya lebih mirip co-working space dibanding ruang baca formal.

Meski demikian, fungsi utama perpustakaan tetap dipertahankan. Jusuf Kalla Library memiliki koleksi lebih dari 18 ribu judul buku fisik dan jumlahnya terus bertambah.

Koleksinya mencakup literatur Islam, buku akademik internasional, jurnal ilmiah, tesis, hingga proceeding penelitian. Selain koleksi umum, perpustakaan ini juga memiliki beberapa koleksi khusus.

Salah satunya ialah Jusuf Kalla Collection yang memuat buku karya Jusuf Kalla maupun referensi mengenai dirinya. 



Ada pula koleksi M.C. Ricklefs, sejarawan Australia yang banyak menulis sejarah Indonesia dan Islam Jawa.

Untuk memudahkan pencarian buku, perpustakaan menyediakan sistem katalog digital atau OPAC yang dapat diakses pengunjung sebelum datang ke lokasi.

Selain ruang baca utama, terdapat pula berbagai fasilitas lain. Di antaranya ruang diskusi kelompok, co-working area, ruang komputer riset, area kreativitas, mushola, serta children reading area untuk anak-anak.

Ruang anak menjadi salah satu bagian yang cukup ramai pada akhir pekan. Desain ruangan dibuat lebih berwarna dengan rak buku rendah dan area duduk yang ramah bagi keluarga.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan ini tidak hanya ditujukan untuk aktivitas akademik, tetapi juga untuk membangun budaya membaca sejak usia dini.

Pengunjung umum dikenai tiket masuk sekitar Rp10.000 per orang. Tiket tersebut sudah termasuk fasilitas loker dan akses ke berbagai area utama perpustakaan. 

Pengunjung cukup melakukan registrasi di bagian resepsionis dengan menunjukkan kartu identitas.

Jam operasional perpustakaan juga relatif panjang. Pada hari kerja, perpustakaan buka dari pagi hingga malam hari. Sementara pada Sabtu operasional berlangsung hingga sore.

Kebijakan itu membuat banyak pengunjung betah berada di lokasi dalam waktu lama. Tidak sedikit mahasiswa atau pekerja yang menghabiskan hampir seharian di sana untuk membaca, menyusun tugas, atau bekerja secara daring.

Perpustakaan juga menyediakan akses WiFi berkecepatan tinggi dan database digital internasional seperti JSTOR serta EBSCO. Fasilitas ini menjadi nilai tambah karena banyak jurnal internasional sulit diakses secara gratis oleh masyarakat umum.

Yang menarik, pengunjung diperbolehkan membawa makanan dan minuman ke area tertentu. 

Kebijakan tersebut berbeda dari perpustakaan lama yang biasanya melarang aktivitas makan dan minum secara ketat.

Dalam praktiknya, aturan dibuat lebih fleksibel tanpa menghilangkan ketertiban ruang baca.

Nama Jusuf Kalla dipilih sebagai identitas perpustakaan karena tokoh tersebut dikenal memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menekankan pentingnya pendidikan, perdamaian, dan peningkatan kualitas generasi muda sebagai fondasi pembangunan bangsa.

Penamaan perpustakaan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap gagasan tersebut.

Di lingkungan UIII sendiri, perpustakaan memang dirancang bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan ruang kolaborasi akademik.

Karena itu, desain bangunan dibuat modern dan terbuka. Pengelola tampaknya ingin membentuk citra perpustakaan yang lebih dekat dengan generasi muda.


Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat terhadap ruang publik berbasis literasi memang mulai meningkat. 

Banyak anak muda mencari tempat yang tenang untuk membaca atau bekerja di luar rumah. Sebagian merasa jenuh dengan pusat perbelanjaan atau kafe yang terlalu ramai.

Jusuf Kalla Library hadir dalam situasi tersebut.

Perpustakaan ini menawarkan suasana yang lebih tertib dan kondusif tanpa kehilangan kenyamanan. 

Pengunjung dapat membaca buku, bekerja menggunakan laptop, berdiskusi, atau sekadar duduk menikmati suasana tenang.

Kehadiran perpustakaan ini sekaligus menunjukkan perubahan cara pandang terhadap ruang literasi di Indonesia. Perpustakaan tidak lagi dipahami sebagai ruang sunyi yang penuh aturan kaku dan rak berdebu.

Ia mulai berkembang menjadi ruang sosial baru bagi masyarakat urban.

Di Depok dan kawasan sekitar Jakarta, Jusuf Kalla Library kini menjadi salah satu contohnya. []
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image