Jadi Aktivis Literasi Dapat Apa? (Bagian 1)
0 menit baca
Jika sebagian besar aktivis literasi bermimpi punya Taman Bacaan/Perpustakaan pribadi, aku justru sebaliknya.
Sepertinya punya banyak buku itu merepotkan, terutama perawatannya.
Kalaupun harus punya buku, mungkin tidak perlu sampai ribuan. Cukup beberapa saja.
Misal, buku-buku model ensiklopedia untuk anak-anak usia 10 tahun ke atas.
Buku-buku sastra untuk remaja dan dewasa awal. Buku fiqih praktis, psikologi atau spiritual yang kita perlukan sebagai panduan.
Lalu, buku dari penulis yang "gaya menulisnya" selalu ingin kita pelajari.
Sebab tidak semua buku akan kita baca ulang, dan besar kemungkinan tersortir ke gudang, rusak dimakan rayap.
Maka aku sepakat dengan mereka yang menjual "pre love" atau menyumbangkannya ke Perpustakaan milik negara yang SOP perawatan bukunya sudah proper.
Itupula sebabnya aku kurang tertarik pada klub baca atau penyedia bacaan, dan lebih tertarik pada komunitas kepenulisan.
Sebab, orang yang menulis pasti membaca, dan pembaca belum tentu menulis.
Menulis lebih luas dimensinya karena selain melahap bacaan, mereka juga memproduksi bacaan baru. Dalam proses tersebut ada usaha mencerna realitas.
Atau dalam konteks personal, ada usaha untuk "membaca dirinya sendiri dan kehidupan yang sedang dijalani".
Ini menarik dan menggairahkan.
Tragisnya, komunitas semacam itu belum ada. Kalaupun ada bukan untuk konsumsi pemula, hanya sebagai wadah bagi penulis yang sudah tinggi jam terbangnya.
Akhirnya dibentuklah komunitas tersebut, dan karena eksistensi komunitas itu, aku turut mendapat label aktivis/pegiat literasi.
Suatu predikat yang pertama kali justru diterbitkan oleh Perpustakaan Bung Karno ketika aku menjadi narasumber Forum Komunitas Pembaca Aktif 2018 silam.
Meskipun term aktivis itu sesungguhnya sangat berat. Aktivis adalah mereka yang memperjuangkan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.
Dalam konteks yang lebih luas, aktivis adalah mereka yang bersuara dan memperjuangkan kebenaran.
Aktivis literasi lebih mudah disematkan pada mereka yang memperjuangkan keberadaan buku bacaan di lokasi yang minim akses bacaan.
Dalam konteks ini, sosok seperti Kang Maman layak disebut sebagai aktivis literasi gaek karena telah mendistribusikan buku ke pelosok daerah yang tak mendapat akses bacaan.
Tak salah memang ketika aktivis literasi selalu lekat dengan buku dan distribusi buku. Karena awalnya memang begitu.
Lalu, bagaimana ketika buku sudah tersedia? Atau, ketika bacaan sudah melimpah?
Menulis, sepertinya bagus juga.
Komunitas kemudian menjadi wadah untuk belajar tekniknya, bedah karya anggota, kritik saran dan apresiasi karya.
Ternyata itu menyenangkan, melihat orang-orang yang perlahan lancar menulis, dan seiring waktu mulai lancar juga mengemukakan pendapat secara verbal.
Mungkin kita perlu berterima kasih pada Ira Progoff yang telah memperkenalkan teknik "Journaling" sejak era 60-an sebagai pegangan bahwa, menulis ternyata ada manfaatnya untuk pengembangan diri. []
Tabik,
Ahmad Fahrizal A.

