Sayonara Kelas Menulis
0 menit baca
Kelas menulis mungkin akan berakhir seiring semakin canggihnya Gemini, ChatGPT, Grok dan kawan-kawannya.
Karya tulis akan tetap dihasilkan namun proses menulis akan hilang.
Coba kita amati dengan seksama, pola kalimat dari caption-caption sosial media, narasi konten, dsj yang beredar belakangan ini, nyaris serupa.
Memang lebih rapi dan terstruktur. Untuk kepentingan komunikasi publik, itu sudah jempolan.
Setidaknya, bila harus merangkai sendiri kata-kata yang tentu memerlukan waktu, memeras pikiran, dan ujung-ujungnya malah njelimet nan bertele tele.
Keliru? Tentu tidak. Sebab banyak orang ingin menghasilkan tulisan, namun mereka tidak ingin menjadi penulis.
Setahun ini, aku juga sudah menutup kelas menulis konten Insight Blitar.
Karena menurutku, tulisan para peserta sudah bagus, sudah memenuhi kriteria konten SEO, dan tentu pakai AI.
Lalu buat apalagi kelas menulis? Toh itu gratisan. Hanya tugasnya saja yang kemudian dijadikan konten untuk blog.
Hanya mungkin, kita tetap memerlukan kerangkanya, pantikan, detail perintah, yang selama ini kita kenal dengan prompt.
Artinya, sayonara kelas menulis, selamat datang kelas prompt.
Meskipun, ketika beberapa kali menjadi juri lomba menulis FLS3N, tertera dalam juknis: dilarang menggunakan akal imitasi. Maksudnya AI.
Untuk jenis karya sastra seperti cerpen, dan terutama puisi, AI mungkin lebih berperan sebagai "penyelaras" akhir.
Untuk jenis nonfiksi seperti berita dan esai, AI telah menjadi asisten super canggih yang tak hanya merangkaikan kata, namun juga menambal pikiran manusia yang minim wawasan dan kreatifitas.
Satu-satunya "kelebihan" esais atau jurnalis dihadapan AI sekarang ini adalah, bahwa mereka bisa tidak terstruktur, lompat-lompat, dan tidak baku.
AI terlalu rapi, terstruktur dan baku. Manusia kadang mendesain robot agar lebih sempurna dari dirinya.
Kekurangan manusia dalam menulis di era AI ini, justru menjadi kelebihan. Otentisitasnya terutama. Sisi manusiawinya.
Bagi yang pernah melakoni belajar menulis dari awal, yang bersusah payah membangun paragraf pertamanya, akan tahu rasanya menulis "sebagai proses".
Pilihannya sekarang, kita mau menghasilkan tulisan atau merasakan proses menulisnya?
Kalau masih ingin menulis sendiri, siap-siap diperbandingkan oleh tulisan hasil AI.
Jika tulisan tidak punya daya pikat, siap-siap terlibas, dan bersegeralah belajar cara ngeprompt, agar tak terponthal ponthal mengikuti perkembangan zaman.
Tabik,
Ahmad Fahrizal A.

