Kesan Setelah Nonton Pesta B4B!
0 menit baca
Ketika dihubungi Bu Khomsatun untuk menjadi moderator nobar film dokumenter Pesta B4b!, untungnya konsep tentang neo kolonialisme, dan atau, pos kolonialisme sudah lebih dulu kupelajari.
Secara garis besar, temanya sudah tertebak, laiknya film-film dokumenter karya Watchdog lainnya.
Namun, pada kesempatan itu, mata kamera tertuju pada detail kondisi di Papua.
Latar belakang Dandhy D. Laksono sebagai jurnalis membuat film ini punya sisi investigatif yang memukau. Detail, tajam dan entertaining.
Gaya naratornya juga dalam nan dramatis.
Selain Dandhy, sutradara lain dari film ini adalah Cypri Paju Dale, seorang antropolog.
Sentuhan Cypri tampak pada kontra narasi pemerintah vs masyarakat adat sebagai subaltern.
Film itu nyaris sempurna memotret developmentalism di Papua.
Narasi pemerintah bahwa itu bagian dari pembangunan, ketahanan pangan, dll diringkus habis oleh fakta bahwa hutan semakin habis dan masyarakat justru menderita.
Teori struktur kolonial yang kita pelajari lewat, salah satunya, orientalisme karya Edward Said, termaktub nyata dalam film tersebut.
Ini rumit bin njelimet. Seperti istilah Pramoedya Ananta Toer tentang "kulit coklat dijajah kulit coklat". Urusan Papua bisa lebih kompleks lagi.
Kolonialisme secara administratif telah berakhir, namun secara sistem masih bekerja lewat "tangan tak terlihat".
Dan ini... yang juga mengerikan, sebagai watak alami, jangan-jangan itu terwarisi.
Termasuk mungkin kita, seandainya punya kekuasaan. Ngeri, bukan?
***
Setelah menonton film tersebut, kita semakin dibuat tak berdaya, alias apa yang bisa kita lakukan selain mengutuk, mengumpat dan (mungkin) berdoa?
Meskipun pematik diskusi malam itu, Mas Albertus Vembrianto, memberi usul kongkrit untuk: bisakah kita kembali bertani sendiri dan menelusur ulang pengetahuan lokal yang telah lama ditinggalkan?
Itu menarik. Meskipun pertanyaan "apa yang bisa kita lakukan?" yang diajukan oleh beberapa peserta nobar sebenarnya sudah keliru sejak dalam pikiran.
Sebab ini forum diskusi, bukan seminar kiat-kiat praktis. Jawaban dari pematik bukan yang utama, justru gagasan dan cerita tambahan dari audiens lah yang ditunggu.
Jika mungkin yang bisa kita lakukan hanya berdoa, lantas mau bagaimana lagi?
Sisanya, kembali ke seberapa mampu kita misalnya, untuk lepas dari jerat produk-produk kapitalisme, untuk menggarap lahan yang masih kita punya, untuk mengembalikan pengetahuan lokal terkhusus yang berkaitan dengan ekosistem.
Mana yang bisa kita lakukan?
Tabik,
Ahmad Fahrizal A.

