Penyedap Rasa Tulisan



Merangkai kalimat sendiri bagi pemula mungkin sama sulitnya dengan membuat masakan sedap tanpa penyedap.

Skill yang perlahan hilang sejak Vetsin ditemukan awal abad ke-20, berlanjut dengan produk turunan lainnya.

Buyut hingga nenek kita sebagian mungkin masih mengusai skill tersebut, khususnya pada moment idul adha seperti sekarang ini.

Sebelum ada bumbu sachet, memasak sangatlah skillfull. Membuat kuah gurih dan sedap dengan "teknik rempah" dan proses rebus mengeluarkan rasa alami dari daging itu sendiri.

Khusus sayur lodeh misalnya, mbah buyut bisa memakai tempe semangit/bosok, dipadukan santan.

Cita rasa maknyus yang sepertinya sulit ditirukan generasi sekarang, yang terbiasa dibuat praktis oleh penyedap rasa sachetan.

Apalagi, bumbu sachetan lebih murah, proses memasaknya pun lebih cepat. 

Lebih tahan lama disimpan, bila dibandingkan rempah aslinya.

Itulah AI di bidang kuliner yang muncul jauh sebelum gemini, chatGPT dan kawan-kawannya.

Menulis sepertinya juga sedang ke arah sana. Berbekal prompt kalimat sederhana, kita bisa perintah aplikasi untuk: ubah lebih puitis, lebih liris, gaya bahasa mendayu dayu, dan sebagainya.

Tulisan biasa menjadi terasa lebih "sedap" bukan karena keahliannya meracik diksi, tetapi karena ditaburi penyedap rasa tulisan.

Seperti halnya dalam dunia kuliner. Mereka yang punya keahlian meracik rasa alami itu kemudian disebut chef.

Namun selain chef ada juga juru masak, yang terlatih "ngeprompt" dengan bumbu sachet dan hasil masakannya bisa menandingi racikan chef.

Dan kenapa kita harus membayar mahal makanan di restoran, tentu karena bahan dan skill penyajiannya, pengalaman lidah bertemu rasa alami dan bukan dari produk-produk ekstrak.

Mungkin makanan dengan penyajian alami lebih ringan dicerna tubuh, untuk tidak memakai istilah lebih sehat, karena bumbu sachet juga terkonfirmasi aman dikonsumsi.

Sekarang ini pun, membedakan tulisan hasil racikan alami dengan prompt AI juga semakin sulit. Apalagi untuk karya-karya nonfiksi.

Jangankan tulisan, editing foto dan sebagian video, juga sudah kian canggih.

Kabar buruknya, dunia menulis berbeda dengan dunia kuliner.

Orang justru mau membayar makanan enak tanpa pengawet dan penyedap rasa, dan belum tentu untuk karya tulis.

Jangankan artikel berita atau esai. Mungkin kedepan orang akan membuat paper, makalah, jurnal, skripsi, tesis dst pakai AI.

Atau jangan-jangan sudah terjadi?

Sepertinya publik juga tak terlalu mempersoalkan selama substansi dari tulisan tersebut bisa dipahami.

Jika dalam dunia kuliner diferensiasi chef dan juru masak itu bisa dipilah, di dunia kepenulisan mungkin lebih rumit.

Bagaimana membedakan penulis dan tukang ngeprompt?

Wallohu'alam
Ahmad Fahrizal A
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image