Sikap Cuek Itu Kadang Diperlukan, Bukan Apatis, Tapi Strategi Mental



Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, sikap cuek sering kali disalahpahami. 

Banyak orang menganggap cuek sebagai bentuk ketidakpedulian, egoisme, atau bahkan sikap dingin terhadap lingkungan sosial. 

Padahal, secara psikologis, cuek berbeda jauh dari apatis. Cuek justru bisa menjadi strategi mental yang sehat jika diterapkan dengan tepat.

Cuek Bukan Apatis

Apatis adalah kondisi ketika seseorang kehilangan minat, empati, dan kepedulian terhadap apa pun, termasuk hal-hal penting dalam hidupnya. 

Sementara itu, cuek adalah kemampuan sadar untuk tidak merespons hal-hal yang tidak relevan atau tidak penting

Orang yang cuek masih peduli, masih punya empati, tetapi tahu kapan harus terlibat dan kapan harus mundur.

Dengan kata lain, cuek bukan soal tidak peduli sama sekali, melainkan memilih dengan sadar apa yang layak mendapatkan perhatian.

Cuek sebagai Seni Mengelola Fokus

Dalam psikologi kognitif, perhatian (attention) adalah sumber daya terbatas. Terlalu banyak merespons komentar orang, drama sosial, gosip, atau validasi eksternal justru membuat fokus terpecah. 

Di sinilah sikap cuek berperan penting.

Dengan bersikap cuek terhadap hal-hal remeh, seseorang bisa:

1. Fokus pada Prioritas

Sikap cuek membantu individu menyaring mana yang penting dan mana yang hanya menghabiskan waktu. 

Tidak semua opini harus ditanggapi. Tidak semua kritik perlu dijawab. Dengan begitu, energi mental dapat diarahkan pada tujuan utama: pekerjaan, keluarga, pengembangan diri, dan kesehatan.

Orang yang tidak bisa cuek cenderung mudah terdistraksi dan akhirnya kelelahan secara mental.

2. Menggunakan Energi Secara Efektif

Energi emosional juga terbatas. Terlalu sering tersinggung, merasa harus menjelaskan diri, atau membuktikan sesuatu kepada orang lain akan menguras energi tanpa hasil signifikan. Cuek adalah bentuk efisiensi energi emosional.

Dalam konteks kesehatan mental, ini selaras dengan konsep emotional regulation, yaitu kemampuan mengelola respons emosi agar tetap adaptif dan proporsional.

3. Menjaga Stabilitas Mental dan Sosial

Di era media sosial, tekanan sosial meningkat drastis. Penilaian, perbandingan, dan ekspektasi datang dari berbagai arah. Sikap cuek yang sehat berfungsi sebagai “filter psikologis” agar individu tidak mudah goyah oleh standar orang lain.

Dengan cuek, seseorang tetap bisa bersosialisasi tanpa harus larut dalam drama, konflik kecil, atau tuntutan sosial yang tidak relevan. Ini penting untuk menjaga stabilitas mental dan relasi sosial jangka panjang.


Sikap cuek bukanlah sikap negatif jika dipahami dan diterapkan dengan benar. 

Cuek bukan apatis, bukan anti-sosial, dan bukan tidak berempati. Cuek adalah seni memilih respons, menjaga fokus, menghemat energi, dan melindungi kesehatan mental.

Di dunia yang terlalu bising, kadang kita memang perlu cuek—agar tetap waras, tetap produktif, dan tetap menjadi diri sendiri. [MyPsikologi]

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image