Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Catatan dari Mangkuk yang Menyelamatkan Jiwa

Foto by @4deruby


Di sudut Jakarta yang bising, di antara gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk lalu lintas, ada seorang pria bernama Ale—37 tahun, tinggi 189 cm, berat 138 kg, kulit hitam legam, dan aroma badan yang sering menjadi bahan ejekan. 

Ia bukan tokoh fiksi yang dibuat untuk dramatisasi; ia adalah potret nyata dari ribuan orang yang berjuang diam-diam melawan depresi akut. 

Dalam keheningan apartemennya yang berantakan, Ale memutuskan: malam ini adalah akhirnya. 

Obat antidepresan akan ditelan sekaligus. Tapi ada satu syarat kecil, satu keputusan bebas terakhir yang ia inginkan: seporsi mie ayam langganan, hangat, berkuah, sebagai penutup sebelum semuanya gelap.

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, karya Brian Khrisna, diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) pada 20 Januari 2025, dengan tebal 216 halaman (ISBN: 978-602-05-3132-8). 

Buku ini lahir bukan dari imajinasi semata; Brian melakukan wawancara mendalam dengan penyintas depresi akut (DDS), berkonsultasi dengan psikiater, dan merangkum cerita-cerita nyata yang sering tersembunyi di balik senyum paksaan sehari-hari. 

Hasilnya? Sebuah karya yang telah mengalami cetak ulang berkali-kali—mencapai sekitar 26.000 eksemplar hanya dalam minggu-minggu awal—dan menjadi salah satu novel paling direkomendasikan di media sosial sepanjang 2025.

Alur cerita mengalir seperti uap panas dari mangkuk mie ayam: sederhana, tapi membawa aroma yang mendalam. 

Ale mempersiapkan "kematiannya" dengan rapi—membersihkan apartemen, makan makanan mahal yang jarang ia nikmati, karaoke sendirian hingga mabuk, bahkan memakai topi konfeti ulang tahun sambil meledakkan confetti sendirian. 

Semua untuk meninggalkan kesan "tidak merepotkan". Namun, rencana terganjal satu kalimat kecil di kemasan obat: "Dikonsumsi sesudah makan." Maka, ia berjalan mencari kedai mie ayam favoritnya. Ternyata tutup—penjualnya baru saja meninggal dunia.

Dari titik itu, tiga minggu perjalanan tak terduga dimulai. Ale bertemu Murad, orang yang untuk pertama kalinya membuatnya merasa dimanusiakan; Bu Marni dengan kebijaksanaannya tentang menghargai hidup; Pak Jipren yang mengajarkan apresiasi diri; Mami Louisse, Pak Uju dengan kue pandannya yang sederhana, hingga Ipul yang membawa cerita pilu tapi penuh harapan. 

Setiap pertemuan seperti serpihan cahaya yang menyusup ke kegelapan Ale. Bukan akhir heroik ala film, bukan juga transformasi instan menjadi "pemenang hidup". 

Ale tetap Ale—tubuh besar, bau badan, kesepian yang sama—tapi dengan perspektif baru: hidup tak selalu tentang mengalahkan monster besar, tapi tentang bertahan demi hal-hal kecil yang hangat.

Penokohan di novel ini terasa hidup, nyaris seperti orang-orang yang kita lewati di pinggir jalan setiap hari. 

Ale adalah korban perundungan sejak kecil, keluarga yang tak mendukung, pekerja kantoran yang merasa tak punya kendali atas apa pun. 

Ia pasif, konyol, rapuh—mewakili sisi gelap yang sering kita sembunyikan. Karakter pendukungnya bukan pahlawan; mereka adalah manusia biasa dengan luka sendiri: preman jalanan, hostes, penjual layangan, OB kantor. 

Brian Khrisna tak memaksa mereka jadi sempurna; ia membiarkan mereka nyata, dengan dialog hangat, jenaka, dan kadang menyakitkan.

Pelajaran yang tersirat begitu pekat, seperti kuah mie yang meresap ke setiap helai mie. 

Depresi bukan soal "kurang berpikir positif"; ia lahir dari penolakan berulang, isolasi, dan hilangnya kendali. 

Buku ini memvalidasi kesedihan—tidak guilt-trip, tidak memaksa "kuat". Ia mengingatkan bahwa satu pertemuan singkat, satu senyum tulus, satu mangkuk makanan sederhana bisa menjadi jangkar. 

Makna hidup tak selalu besar; kadang ia tersembunyi dalam aroma bawang goreng, tawa kecil di warung pinggir jalan, atau kata "kamu tidak sendiri" dari orang asing.

Di akhir perjalanan, Ale tak menjadi superhero. Ia hanya belajar melihat dunia sedikit lebih lebar, menerima bahwa hidup memang tak adil, tapi masih ada alasan untuk melanjutkan—bahkan jika hanya demi seporsi mie ayam sebelum mati. 

Bagi siapa pun yang pernah merasa mangkuk hidupnya kosong, bacalah. Mungkin, seperti Ale, kamu akan menemukan bahwa uap panas itu masih naik, masih hangat, masih layak dinikmati. [Iqbal Falasifa]
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Banner Iklan