Teori Tangga Realitas, Memahami Perbedaan Pencapaian Manusia Berdasarkan Titik Awal Kehidupan
Perbedaan pencapaian antarindividu merupakan realitas sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Dalam upaya memahami fenomena tersebut, Teori Tangga Realitas menawarkan kerangka konseptual untuk menjelaskan bagaimana posisi awal seseorang dalam kehidupan memengaruhi proses, tantangan, dan makna dari pencapaian yang diraih.
Teori ini berangkat dari asumsi dasar bahwa manusia tidak memulai kehidupan dari titik yang sama, sehingga ukuran “keberhasilan” tidak dapat diseragamkan secara sederhana.
Teori Tangga Realitas memvisualisasikan kehidupan sebagai sebuah tangga bertingkat.
Setiap individu “lahir” pada tingkat tangga yang berbeda, ditentukan oleh latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, akses pendidikan, modal sosial, serta lingkungan budaya.
Seseorang yang lahir pada tangga 1 berada dalam kondisi keterbatasan, sedangkan mereka yang lahir pada tangga 3 atau lebih tinggi menikmati kemapanan struktural sejak awal.
Perjalanan hidup manusia kemudian dipahami sebagai proses naik, diam, atau bahkan turun dari tangga tersebut.
Dalam kerangka ini, kemajuan hidup diukur bukan semata-mata dari posisi akhir, melainkan dari arah pergerakan.
Seseorang yang lahir di tangga 1 dan melalui proses pendidikan, kerja keras, serta adaptasi sosial berhasil mencapai tangga 2 dapat dikatakan mengalami progres kehidupan.
Sebaliknya, individu yang lahir di tangga 3 namun dalam perjalanan hidupnya berada di tangga 2 secara objektif mengalami kemunduran, meskipun secara kasat mata posisinya masih tergolong “cukup”.
Teori Tangga Realitas menekankan bahwa posisi yang sama tidak selalu memiliki makna yang sama.
Dua individu yang berada di tangga 2 mungkin tampak setara secara ekonomi atau sosial, tetapi memiliki sejarah dan beban realitas yang berbeda.
Perbedaan titik awal ini memengaruhi cara mereka memandang pencapaian, kegagalan, dan tekanan hidup.
Dengan demikian, penilaian sosial yang hanya berfokus pada posisi akhir berpotensi melahirkan ketidakadilan simbolik.
Menariknya, teori ini juga menyoroti paradoks tantangan kehidupan.
Mereka yang lahir dari keluarga mapan relatif menghadapi tantangan realitas yang lebih berat secara psikologis dan simbolik.
Ekspektasi keluarga, bayang-bayang reputasi, serta tuntutan untuk “tidak turun kelas” sering kali membatasi ruang eksperimentasi diri.
Sebaliknya, individu yang lahir dari bawah meskipun memiliki akses terbatas, justru cenderung memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mendesain identitas dan tujuan hidupnya tanpa tekanan warisan sosial yang besar.
Namun demikian, Teori Tangga Realitas tidak menafikan fakta bahwa mereka yang lahir dari bawah tetap menghadapi hambatan struktural yang nyata, seperti keterbatasan akses pendidikan, jaringan sosial, dan sumber daya ekonomi.
Oleh karena itu, progres yang dicapai kelompok ini sering kali menuntut usaha yang jauh lebih besar dibanding mereka yang lahir serba mapan.
Sebagai kesimpulan, Teori Tangga Realitas mengajak kita untuk melihat pencapaian manusia secara kontekstual dan berkeadilan.
Keberhasilan bukan sekadar soal “di tangga berapa seseorang berdiri”, melainkan dari mana ia memulai dan ke arah mana ia melangkah.
Dalam perspektif ini, evaluasi terhadap manusia menjadi lebih manusiawi, proporsional, dan berorientasi pada proses, bukan semata hasil akhir. []
Konten Kolaborasi bersama MyPsikologi

