Laki-laki Bisa Jadi Korban Pelecehan Seksual Lewat 8 Ungkapan ini
Pelecehan seksual kerap diasosiasikan dengan perempuan sebagai korban. Namun, dalam kajian psikologi sosial dan kesehatan publik, laki-laki juga dapat menjadi target pelecehan—baik oleh sesama laki-laki maupun perempuan.
Bentuknya tidak selalu fisik; sering kali hadir dalam ungkapan verbal yang dianggap “candaan”, padahal mengandung objektifikasi, stereotip, atau tekanan sosial yang merugikan.
Berikut delapan contoh ungkapan yang perlu dikaji ulang secara kritis.
1. “Kamu ganteng ya”
Sekilas tampak sebagai pujian, tetapi dalam konteks tertentu—misalnya diucapkan berulang, dengan nada menggoda, atau tanpa persetujuan—ungkapan ini bisa menjadi bentuk objektifikasi.
Fokus berlebihan pada penampilan dapat membuat laki-laki merasa dinilai semata dari fisik, bukan kapasitasnya.
2. “Pisangnya pasti gede berurat”
Ini merupakan bentuk pelecehan seksual verbal yang jelas. Mengomentari organ intim seseorang tanpa izin melanggar batas privasi dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan serius.
Dalam literatur kesehatan mental, komentar seperti ini termasuk sexual harassment karena bersifat eksplisit dan invasif.
3. “Rahimku anget”
Ungkapan bernuansa seksual ini dapat menempatkan laki-laki dalam situasi yang tidak diinginkan. Meskipun disampaikan sebagai “rayuan”, tetap merupakan bentuk tekanan seksual terselubung yang mengabaikan persetujuan (consent).
4. “Coba buka baju”
Permintaan untuk membuka pakaian, apalagi di ruang publik atau tanpa konteks yang jelas, merupakan pelanggaran batas personal.
Hal ini bisa memicu rasa terancam dan memperkuat norma bahwa tubuh laki-laki bebas untuk dikomentari atau diekspos.
5. “Badannya berotot banget”
Pujian terhadap tubuh dapat berubah menjadi tekanan standar maskulinitas. Tidak semua laki-laki nyaman dengan ekspektasi tubuh berotot.
Penelitian menunjukkan bahwa body image issue juga dialami laki-laki, termasuk kecemasan terkait bentuk tubuh.
6. “Cowok kok feminin”
Ungkapan ini mencerminkan stereotip gender. Menilai laki-laki berdasarkan standar maskulinitas sempit dapat berdampak pada kesehatan psikologis, termasuk rasa rendah diri dan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial yang kaku.
7. “Dasar boti lu”
Labeling seperti ini bersifat merendahkan dan sering dikaitkan dengan stigma terhadap orientasi atau ekspresi gender tertentu. Selain berpotensi diskriminatif, istilah tersebut juga memperkuat budaya perundungan (bullying).
8. “Yang jantan dong jadi cowok”
Kalimat ini menegaskan ekspektasi sosial bahwa laki-laki harus selalu kuat, dominan, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Dalam jangka panjang, tekanan ini berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, depresi, dan kesulitan mengekspresikan emosi.
***
Pelecehan terhadap laki-laki sering tidak disadari karena dibungkus dalam bentuk candaan atau pujian. Padahal, dampaknya nyata terhadap kesehatan mental dan harga diri.
Kunci pencegahan terletak pada pemahaman tentang batasan pribadi, pentingnya persetujuan, serta kesadaran bahwa setiap individu—tanpa memandang gender—berhak dihormati.
Mengubah cara berkomunikasi menjadi lebih empatik dan tidak invasif merupakan langkah sederhana namun signifikan untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat.

