Sosrokartono, Kakak Kartini yang Dilupakan, Poliglot Jenius hingga Penyembuh Spiritual


Selama ini, setiap April, nama Raden Ajeng Kartini kembali disebut. Sekolah-sekolah menggelar lomba kebaya. Media sosial dipenuhi kutipan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. 

Namun, di balik terang itu, ada satu sosok yang justru jarang disentuh yaitu kakaknya sendiri, Raden Mas Panji Sosrokartono.

Pengaruhnya sangat besar. Ia adalah pengantar buku-buku, pembuka jendela dunia, sekaligus figur yang diam-diam membentuk cara berpikir Kartini. 

Sosrokartono berdiri di persimpangan yang jarang ditemui antara tradisi Jawa, spiritualitas Islam, dan modernitas Barat. 

Namanya tidak setenar adiknya, tetapi jejaknya menjalar jauh—hingga Eropa, medan perang, dan ruang diplomasi dunia.

Akar Keluarga, Tradisi, Kekuasaan, dan Pendidikan

Sosrokartono lahir pada 10 April 1877 di Pelemkerep, Mayong, Jepara. Ia tumbuh dalam keluarga priyayi yang tidak biasa. 

Ayahnya, Raden Mas Adipati Sosrodiningrat, adalah bupati yang berpikiran maju. Ia membuka akses pendidikan Barat bagi anak-anaknya—sebuah keputusan yang pada masa itu tergolong berani.

Ibunya, Mas Ajeng Ngasirah, berasal dari keluarga ulama. Dari garis ini, Sosrokartono mewarisi tradisi spiritual yang kuat. 

Jika ditarik lebih jauh, keluarganya terhubung dengan tokoh-tokoh besar Jawa, termasuk garis keturunan Sunan Muria.

Lingkungan keluarga ini unik. Di satu sisi, ada disiplin aristokrasi Jawa. Di sisi lain, ada keterbukaan terhadap ilmu Barat. 

Di tengahnya, nilai-nilai Islam dan tradisi sufistik mengalir sebagai fondasi moral. Kombinasi ini membentuk Sosrokartono sejak awal: rasional sekaligus spiritual.

Kartini lahir dua tahun setelahnya. Dalam struktur keluarga, Sosrokartono menjadi kakak laki-laki yang paling menonjol. Peran ini kelak tidak hanya bersifat keluarga, tetapi juga intelektual.

Dari Jepara ke Leiden

Pendidikan awalnya ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), lalu berlanjut ke Hogere Burgerschool (HBS) di Semarang. Ini bukan sekolah biasa. HBS adalah institusi elite yang didominasi anak-anak Eropa.

Dari sana, ia melanjutkan studi ke Belanda—langkah yang pada akhir abad ke-19 masih sangat langka bagi pribumi. Ia sempat masuk sekolah teknik di Delft, tetapi kemudian beralih ke studi bahasa dan filsafat di Universitas Leiden.

Di sinilah Sosrokartono berkembang pesat. Ia mempelajari berbagai bahasa dunia: Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, Spanyol, hingga bahasa-bahasa Timur. Ia juga menekuni Latin dan Yunani dalam waktu singkat.

Jumlah bahasa yang dikuasainya sering disebut mencapai lebih dari 20. Ia menjadi poliglot yang disegani. Di lingkungan akademik seperti Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), namanya mulai dikenal.

Kemampuan ini menjadi alat untuk membuka peradaban—dan kelak, menjadi jembatan antarbangsa.

Sosrokartono dan Kartini

Hubungan Sosrokartono dengan Kartini tidak berlangsung dalam intensitas harian. Ia lebih banyak berada di luar kota, bahkan luar negeri. Namun, jarak itu tidak menghilangkan pengaruhnya.

Ia mengirim buku, majalah, dan bacaan dari Eropa. Dari situlah Kartini mengenal ide-ide modern: emansipasi, kebebasan, hingga pemikiran tentang kesetaraan manusia.

Konsep seperti “Liberté, Egalité, Fraternité” dari Revolusi Prancis tidak datang begitu saja. Ada perantara. Dan Sosrokartono adalah salah satunya.

Kartini hidup dalam masa pingitan. Dunia luar terbatas. Buku-buku kiriman kakaknya menjadi jendela. Dari sana lahir pemikiran kritis yang kemudian dituangkan dalam surat-suratnya.

Tanpa peran Sosrokartono, Kartini mungkin tetap menjadi sosok cerdas. Tetapi arah pemikirannya bisa berbeda. Ia bukan hanya kakak—ia kurator gagasan.

Karier Internasional

Setelah menyelesaikan studi, Sosrokartono tidak langsung pulang. Ia menetap di Eropa selama hampir tiga dekade.

Ia bekerja sebagai jurnalis untuk New York Herald Tribune. Dalam posisi ini, ia meliput Perang Dunia I langsung dari lapangan.

Kemampuan bahasanya membuatnya unggul. Ia bisa membaca dokumen, berbicara dengan berbagai pihak, dan memahami konteks lintas budaya.

Salah satu pencapaiannya adalah memperoleh informasi penting terkait Perjanjian Versailles. Perjanjian ini mengakhiri Perang Dunia I dan menjadi titik balik politik global.

Setelah perang, ia diangkat sebagai penerjemah utama di Liga Bangsa-Bangsa. Ini posisi strategis. Tidak banyak orang Asia yang bisa mencapai level tersebut pada masa itu.

Di sinilah Sosrokartono memainkan peran sebagai jembatan dunia. Ia bukan hanya penerjemah bahasa, tetapi juga penerjemah budaya.

Kembali ke Indonesia

Sekitar pertengahan 1920-an, Sosrokartono pulang ke Hindia Belanda. Ia tidak memilih jalur politik atau jabatan formal. Ia justru membuka klinik gratis di Bandung bernama Dar El Salam.

Pendekatannya berbeda dari kedokteran modern. Ia menggunakan metode spiritual: doa, meditasi, sugesti, dan media air yang disebut “air alif”.

Bagi sebagian orang, ini dianggap mistis. Bagi yang lain, ini adalah bentuk pengobatan alternatif yang memberi harapan.

Ia hidup sederhana, tidak menikah, dan mendedikasikan diri untuk melayani masyarakat kecil. Prinsipnya dikenal dengan ungkapan Jawa: “leladi sesami”—mengabdi kepada sesama manusia.

Dalam lingkaran nasionalis, ia juga dikenal sebagai guru spiritual Soekarno. Pengaruhnya tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi terasa dalam pembentukan karakter.

Antara Timur dan Barat

Sosrokartono tidak menolak modernitas. Ia justru hidup di pusatnya, Eropa. Namun, ia tidak larut sepenuhnya.

Ia melihat ada batas. Modernitas tanpa akar bisa membuat manusia kehilangan arah. Karena itu, ia menawarkan jalan tengah menggabungkan rasionalitas Barat dengan kebijaksanaan Timur.

Ajarannya sering disebut sebagai nilai “adiluhung”—nilai luhur yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam konteks Indonesia modern, pemikirannya relevan. Ia tidak anti kemajuan, tetapi menolak kehilangan identitas.

Warisan yang Terlupakan

Nama Sosrokartono jarang muncul dalam buku pelajaran. Ia tidak diangkat sebagai pahlawan nasional. Tidak ada hari peringatan khusus.

Namun, jika ditelusuri, kontribusinya luas:

  • Membuka akses intelektual bagi Kartini
  • Membuktikan kemampuan pribumi di panggung global
  • Berkontribusi dalam diplomasi internasional
  • Mengembangkan praktik pengobatan berbasis spiritual
  • Menanamkan nilai moral lintas budaya

Ia meninggal pada 1952 di Bandung. Tidak banyak seremoni. Tidak banyak sorotan.

Tetapi jejaknya tetap ada—dalam pemikiran, dalam sejarah yang tersembunyi, dan dalam bayang-bayang nama besar adiknya.

***

Sejarah sering memilih tokohnya sendiri. Yang terang akan terus dikenang. Yang redup perlahan dilupakan.

Kartini menjadi simbol. Sosrokartono menjadi latar.

Padahal, di balik terang itu, ada tangan yang pernah menyalakan lampu.

Daftar Pustaka

  1. ObserverID. “R.A. Kartini’s Brilliant Brother”
  2. ObserverID. “Raden Mas Panji Sosrokartono in Defeat and Victory”
  3. Universitas Gadjah Mada (UGM). “Exploring Moral Teachings of Sosrokartono”
  4. Archipel Journal. Kajian tentang intelektual Jawa dan kolonialisme
  5. KITLV Leiden Archives. Data tentang Sosrokartono dan studi bahasa
  6. Wikipedia (English). “Kartini” dan “Sosrokartono”
  7. ResearchGate. Artikel akademik terkait Sosrokartono dan pemikiran Jawa
  8. Dokumentasi sejarah Perang Dunia I dan Liga Bangsa-Bangsa
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image