Laut Bercerita, Monumen Ingatan yang Masih Hidup


Ada buku yang hadir seperti angin—singgah sebentar lalu hilang. Ada pula buku yang datang seperti gelombang: menggerus kesadaran, berulang, tak pernah benar-benar pergi. 

Laut Bercerita, novel karya Leila S. Chudori yang terbit pertama pada Oktober 2017 (Gramedia Pustaka Utama, 404 halaman), termasuk gelombang besar itu. 

Delapan tahun setelah kemunculannya, pengaruhnya tidak pernah surut. Cetaknya telah menembus 100 kali, dengan jumlah eksemplar lebih dari 650.000, dan novel ini semakin mapan sebagai bacaan wajib di puluhan sekolah serta kampus di Indonesia.

Buku ini menempatkan diri pada genre fiksi sejarah, drama politik, dan coming-of-age, tetapi dampaknya jauh melewati label. Ia adalah jembatan antara generasi yang mengalami gelapnya 1998 dan generasi yang lahir sesudahnya. 

Bagi banyak orang, Laut Bercerita adalah ruang untuk berduka—dan sekaligus ruang untuk mengingat.

Latar Cerita, Ketika Laut Menjadi Suara

Leila membangun novel ini dari inspirasi nyata: penghilangan paksa 13 aktivis pro-demokrasi pada Maret–Mei 1998. Namun ia memilih untuk tidak menuliskannya sebagai kronik dingin. 

Ia memilih jalan lain, jalan yang lebih manusiawi, lebih lirih: cerita dari dalam luka itu sendiri.

Novel ini terbagi dalam dua bagian.

1. “Laut” — Suara yang Direbut, tetapi Tidak Padam

Naratornya adalah Biru Laut, mahasiswa FISIP UI angkatan 1993 yang tergabung dalam kelompok bawah tanah Wirasena. Kita menyelinap masuk ke hari-harinya: pamflet yang ditulis terburu-buru di kamar kos yang sempit, rapat di warung kopi yang penuh asap rokok, langkah gugup sebelum demo, dan candaan sesama kawan yang membuat perjuangan keras terasa mungkin dijalani.

Humor anak muda itu berhenti tiba-tiba ketika sebuah malam menculik kebebasan Laut untuk selamanya. Ia dihilangkan pada 15 Maret 1998, bersama beberapa sahabatnya. Leila menuliskan bagian ini dengan begitu hidup sehingga kehilangan itu terasa seperti kehilangan kawan sendiri.

2. “Bercerita” — Suara yang Menunggu Tanpa Akhir

Bagian kedua beralih pada keluarga: Marni, Awan, dan Asmara Jati (Nara), adik perempuan Laut. Dari rumah sederhana keluarga ini, kita merasakan ketidakpastian yang menggerogoti dari hari ke hari. Tak ada jenazah, tak ada kabar, tak ada penutup. Yang ada hanyalah doa yang menua, pakaian yang tidak mau didonasikan, dan rutinitas datang ke Komnas HAM atau Aksi Kamisan.

Di halaman terakhir pun, Leila tidak memberi jawaban. Laut tetap “hilang”, seperti 13 nama yang hingga hari ini masih belum kembali.

Tema-tema yang Menjadi Nadi Cerita

Dari halaman pertama hingga terakhir, narasi ini berkisar pada beberapa tema besar:

  • Harga Reformasi yang dibayar dengan tubuh dan nyawa anak-anak muda
  • Luka keluarga korban pelanggaran HAM yang tidak kunjung sembuh
  • Ingatan kolektif sebagai alat perlawanan pada negara yang ingin lupa
  • Kritik halus pada impunitas yang masih berlangsung

Novel ini tidak berteriak, tetapi suaranya menetap lama, seperti gema di tebing yang mengulang dirinya sendiri.

Kutipan Ikonik, Mantra yang Menjadi Milik Semua Orang

Ada lima kutipan yang menyebar jauh ke luar halaman buku—dikutip di spanduk Aksi Kamisan, ditato di lengan anak muda, dipoinkan di ruang kelas, bahkan pernah muncul di rapat DPR:

  1. “Laut itu tak pernah diam. Ia selalu bercerita. Tentang yang tenggelam, yang terapung, yang hilang, dan yang tak pernah pulang.”
  2. “Kami bukan pemberani. Kami hanya tak mau lagi takut.”
  3. “Kalau suatu saat aku tak pulang… cari aku di laut.”
  4. “Keadilan itu lambat jalannya, Nak. Tapi ibu lebih takut kalau dia berhenti berjalan sama sekali.”
  5. “Mereka bisa menghilangkan tubuh kami, tapi tidak cerita kami.”

Kutipan-kutipan ini bukan sekadar kalimat; ia telah menjadi litani ingatan bersama.

Warisan yang Terus Mengalir

Dalam delapan tahun, Laut Bercerita telah menjelma menjadi karya lintas medium dan lintas generasi:

  • Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017
  • Diterjemahkan ke bahasa Inggris (The Sea Speaks His Name, 2023) dan Jerman
  • Diadaptasi menjadi teater, musikalisasi puisi, dan sedang masuk proses film (rencana rilis 2026)
  • Mengilhami gerakan “Baca Laut” setiap 13 Mei
  • Menjadi rujukan kajian sejarah, politik, dan sastra di kampus-kampus
  • Tetap habis terjual dalam hitungan hari setiap kali terbit ulang

Dalam sebuah wawancara, Leila pernah berkata, “Saya menulis novel ini agar orang tidak lupa.”
Dan sepertinya, kita memang tidak lupa. Bahkan ketika kelas-kelas baru lahir setiap tahun, ketika generasi pembacanya berganti, Laut tetap menemukan rumah baru.

Selama Ada yang Bercerita, Tidak Ada yang Benar-benar Hilang

Laut Bercerita bukan sekadar novel. Ia adalah monumen—bukan dari batu, tetapi dari ingatan. Ia mengajak kita melihat masa lalu, namun bukan untuk terjebak di dalamnya; ia mengajak kita menatap masa kini dengan kepekaan baru.

Selama buku ini masih dibaca, selama cerita Biru Laut dan kawan-kawannya masih berpindah dari satu mulut ke mulut lain, tidak ada yang benar-benar hilang.

Laut masih bercerita.
Dan kita masih terus mendengarkan.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image